Sudah ada dan akan semakin banyak garis,
Maka semakin bias-lah yang mana yang lurus.
Adakah harus pilihan-pilihan itu dipilih.
Atau justru yang benar tidak terpilih.
Realita tidak serta merta ke-empiris-an yang objektif.
Ketika objektifitas itu lahir dari subjektifitas.
Tidak ada yang telak.
Yang ada menyerah dan tidak/belum tahu.
Titik pun dimana ujungnya.
bukan kontemplasi yang di ada ada kan.
Lalu yang mana titik dimana semua sama.
Yang sering berbeda diantara kata dan kita.
Lihat matahari pun, kita belum pernah menyentuhnya.
Bagaimana sebenarnya garis-garis itu menjadi candu.
Seolah segala ini antara ya dan tidak.
Pasti pun hanya sekadar informasi.
Seperti malam dan siang.
Atau setrika dan baju kusut.
Mereka berhenti.
Adapun sesuatu yang benar tidak pernah berhenti.
Henti bahkan bukan kata yang pantas disandingkan dengannya.
Maka semakin bias-lah yang mana yang lurus.
Adakah harus pilihan-pilihan itu dipilih.
Atau justru yang benar tidak terpilih.
Realita tidak serta merta ke-empiris-an yang objektif.
Ketika objektifitas itu lahir dari subjektifitas.
Tidak ada yang telak.
Yang ada menyerah dan tidak/belum tahu.
Titik pun dimana ujungnya.
bukan kontemplasi yang di ada ada kan.
Lalu yang mana titik dimana semua sama.
Yang sering berbeda diantara kata dan kita.
Lihat matahari pun, kita belum pernah menyentuhnya.
Bagaimana sebenarnya garis-garis itu menjadi candu.
Seolah segala ini antara ya dan tidak.
Pasti pun hanya sekadar informasi.
Seperti malam dan siang.
Atau setrika dan baju kusut.
Mereka berhenti.
Adapun sesuatu yang benar tidak pernah berhenti.
Henti bahkan bukan kata yang pantas disandingkan dengannya.
09.03.2016.kumbangpincang.